Blank 24 Refleksi Tahun Baru 1436 Hijriyah.

Posted by Unknown on Sunday, October 26, 2014

Description: Blank 24 Refleksi Tahun Baru 1436 Hijriyah.
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Blank 24 Refleksi Tahun Baru 1436 Hijriyah.
SelengkapnyaBlank 24 Refleksi Tahun Baru 1436 Hijriyah.

Berbahagialah wahai wanita.

Posted by Unknown on Wednesday, October 8, 2014

Description: Berbahagialah wahai wanita.
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Berbahagialah wahai wanita.
SelengkapnyaBerbahagialah wahai wanita.

Kurban dengan Domba, Kambing ataukah Sapi..?

Posted by Noer Rachman Hamidi on Friday, September 26, 2014

Pekerjaan memakmurkan bumi ini adalah pekerjaan yang sangat komplek – multi dimensi. Usia manusia yang terbatas, pengalaman dan kecerdasannya-pun terbatas – tidak akan pernah mampu menguasai keseluruhan dimensi tersebut. Lantas bagaimana manusia yang penuh keterbatasan ini bisa mengemban tugas yang sangat kompleks tersebut ? tidak ada jalan lain kecuali dengan mengikuti petunjukNya.

Bila kita hanya mengandalkan kecerdasan dan pengalaman kita, bisa jadi perbuatan yang kita kira baik itu justru berdampak buruk bagi orang lain.  Ketika orang-orang super kaya bersama dengan perusahaan-perusahaan benih dunia membuat Doomsday Seed Fault di laut Barent dekat kutub utara – untuk konon katanya mengamankan benih dunia ketika 'kiamat' tiba ! – yang terjadi malah hampir satu milyar orang kelaparan sebelum 'kiamat' itu tiba.

Sebaliknya, hal kecil - sederhana yang kita lakukan dengan mengikuti petunjukNya atau mengikuti contoh-contoh NabiNya – bisa jadi tersimpan di dalamnya hikmah yang sangat besar – baik hikmah itu kita ketahui atapun belum/tidak kita ketahui.

Misalnya syariat ber-Qurban yang akan rame-rame kita lakukan dalam sepekan yang akan datang. Siapa yang memberi contoh ?, yang memberi contoh adalah Nabi Ibrahim 'Alaihi Salam dan Putranya 'Ismail 'Alaihi salam. Apa yang dicontohkannya ? menyembelih seekor sembelihan yang besar. Para ahli tafsir menyebutkan bahwa yang disebut sembelihan yang besar itu adalah domba atau gibas yang besar dan sempurna (QS 37:107).

Lalu manusia sekarang berfikir ekonomis dan manfaat jangka pendek menurut logikanya sendiri – yang terbatas, yaitu ada paham menyembelih sapi lebih baik karena dagingnya banyak – banyak masyarakat yang bisa menikmati daging pada hari itu.

Meskipun tidak ada yang melarangnya dan berqurban dengan sapi, unta, kerbau dan lain sebagainya semuanya baik – yang tidak baik hanyalah yang tidak berqurban ! tetapi alangkah baiknya lagi kalau kita bisa mencontoh sedekat mungkin dengan contoh aslinya – yaitu menyembelih domba atau gibas yang besar.

Dagingnya tentu tidak sebanyak sapi, tetapi dampak pada dimensi-dimensi lainnya yang insyaAllah sangat luas. Bila qurban-qurban kita kembali ke domba, maka masyarakat akan rame-rame memelihara domba. Apalagi ketika domba-domba ini digembala juga dalam rangka mengikuti perintahNya (QS 20 :54), ketaatan yang satu melahirkan ketaatan berikutnya, manfaat yang satu menggerakkan manfaat berikutnya.

Akibat domba-domba yang digembalakan di tempat-tempat yang juga ditunjukanNya (QS 16:10), maka negeri ini akan menjadi negeri kebun-kebun buah dari segala macam buah-buahan yang ada (QS 16:11). Negeri yang seperti ini dipuji Allah sebagai negeri yang baik – Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafuur (QS 34;15).

Negeri yang baik, mampu memberi makan cukup bagi rakyatnya – kita tidak perlu lagi impor buah malah meng-ekspornya, kita-pun tidak perlu lagi impor daging dan susu.  Daging domba ini adalah daging yang sekarang disebut the world healthiest food sebagai makanan tersehat didunia, mereka menyebut khusus the grass-fed-lamb yaitu daging domba yang diberi makan rumput (digembala di rerumputan !).

Susu domba selain menjadi minuman yang bersih dan mudah diminum (QS  16:66 ), juga sangat efektif untuk berbagai pengobatan penyakit. Tidak perlu industri farmasi yang canggih-canggih untuk ini, tinggal mengumpulkan dan mengemasnya secara baik saja – sudah akan menjadi industri obat-obatan yang tidak kalah dengan industri obat-obatan milik kapitalis yang telah menjadikan obat sangat mahal.

Ketika domba semakin banyak, ada potensi industri baru yaitu industri pakaian dari kulit atau bulu domba. Bahkan pakaian dari kulit dan bulu domba inipun ada di petunjukNya yaitu di surat An-Nahl 80-81. Kita bisa menjadi produsen dan eksportir pakaian terbaik dunia, tidak seperti sekarang kita menjadi importer untuk pakaian yang sebenarnya  tidak begitu bermutu.

Dari contoh kecil dan sederhana yaitu mengembalikan qurban sedekat mungkin dengan contoh aslinya ini saja – kita insyaAllah sudah bisa menggerakkan seluruh dimensi kemakmuran yang ada. Keturunan kita akan lebih baik, alam kita akan lebih baik, lapangan pekerjaan terbuka luas, demikian pula dengan potensi ekonomi riil dalam negeri yang bisa digarap oleh masyarakat luas.

Barangkali dampak yang begitu luas dalam pertumbuhan yang berkelanjutan inilah maka domba juga disebut sebagai harta muslim terbaik dalam hadits shahih berikut :  "Waktunya akan datang bahwa harta muslim yang terbaik adalah domba yang digembala di puncak gunung dan tempat jatuhnya hujan. Dengan membawa agamanya dia lari dari beberapa fitnah (kemungkaran atau pertikaian sesama muslim)". (H.R. Bukhari)

Maka yang kita perlu lakukan di usia yang terbatas dan kemampuan juga terbatas ini adalah bagaimana kita mengerjakkan saja perintah-perintahNya dan menjauhi apa-apa yang dilarangNya, maka kita insyaAllah akan semakin dekat dengan takwa – dan orang bertakwa dijanjikan rezeki yang tanpa batas atau tanpa dhihitung ( QS  3:27 ;24:38; 40:40), dan dari sumber yang tidak disangka-sangka  (QS 65:3)  ! InsyaAllah. ‎ Description: Kurban dengan Domba, Kambing ataukah Sapi..?
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Kurban dengan Domba, Kambing ataukah Sapi..?
SelengkapnyaKurban dengan Domba, Kambing ataukah Sapi..?

Bukti (Fakta) Lailatul Qodar yang disembunyikan NASA

Posted by Noer Rachman Hamidi on Monday, July 7, 2014


Siklus satu tahunan (Hijriyah) bernilai 1000 x bulan purnama dan malam yang nilainya 1000 bulan purnama adalah Lailatul Qadar atau malam seribu bulan. Sedangkan Lailatul Qadar terjadi di bulan Ramadhan. 

Jadi, siklus badai matahari yang berulang setiap tahunan (Hijriyah) terjadi setiap bulan Ramadhan. Itulah sebabnya sejarah para Nabi menunjukkan bahwa mereka senang merenungkan hakikat kehidupan, bertapa, pada setiap bulan.

Sayangnya fakta ilmiah tentang Lailatul Qodar tersebut ditutupi oleh NASA, lembaga antariksa yang berpusat di Amerika. Kepala lembaga Mukjizat Ilmiah Al-Qur'an dan Sunnah di Mesir, Dr. Abdul Basith As-Sayyid menegaskan bahwa Badan Nasional Antariksa Amerika (NASA) telah menyembunyikan kepada dunia bukti empiris ilmiah tentang (malam) Lailatul Qodar. 

Menurutnya sesuai dengan hadits Nabi bahwa malam Lailatul Qodar adalah "baljah"; tingkat suhunya sedang, tidak ada bintang atau meteor jatuh ke atmosfer bumi, dan paginya matahari keluar tanpa radiasi cahaya. Sayyid menegaskan bahwa setiap hari-hari biasa ada 10 bintang dan 20 ribu meteor jatuh ke atmosfer bumi, kecuali malam Lailatul Qodar dimana tidak ada radiasi cahaya sekalipun. 

Hal ini sudah pernah ditemukan Badan Antariksa NASA 10 tahun lalu. Namun mereka enggan mempublikasikannya dengan alas an agar non-muslim tidak tertarik masuk Islam. Pernyataan ini mengutip ucapan seorang pakar di NASA Carner, seperti yang dikutip oleh harian Al-Wafd Mesir.
          
Dr. Abdul Basith As-Sayyid dalam sebuah program TV Mesir menegaskan, pakar Carner akhirnya masuk Islam dan harus kehilangan jabatannya di NASA. Ini bukan pertama kalinya, NASA mendapatkan kritikan dari pakar Islam. 

Pakar geologi Islam, Zaglol Najajr, pernah menegaskan bahwa NASA me-remove satu halaman situs resminya yang di publish selama 21 hari. Halaman itu tentang hasil ilmiah yakni cahaya aneh yang tidak terbatas dari Ka'bah di Baitullah ke Baitul Makmur di langit.    

Kalau saja NASA mempublikasikan saat tidak ada bintang dan meteor, pasti memudahkan orang Islam dalam mengetahui malam Lailatul Qodar!
Description: Bukti (Fakta) Lailatul Qodar yang disembunyikan NASA
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Bukti (Fakta) Lailatul Qodar yang disembunyikan NASA
SelengkapnyaBukti (Fakta) Lailatul Qodar yang disembunyikan NASA

Madu Sebagai Obat

Posted by Noer Rachman Hamidi on Friday, July 4, 2014

Dalam Al-Qur'an diisyaratkan bahwa madu bisa dijadikan minuman sekaligus juga dapat dijadikan obat untuk manusia, sebagaimana tersurat dalam Q.S. An-Nahl ayat 69,

يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُون

"…Dari perut lebah itu keluar minuman yang bermacam-macam warnanya. Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang memikirkan." Dalam bukunya yang berjudul, "Makanan – Dalam Perspektif Al-Quran dan Ilmu Gizi," Dr. Hj. Tien Chudrin Tirtawinata Sp.GK menjabarkan beberapa cara untuk memanfaatkan madu sebagai obat, diantaranya adalah sebagai berikut:

Madu sebagai obat batuk pilek.

Siapkan jeruk lemon atau satu jeruk nipis dan 2 sendok makan madu. Jeruk diperas, lalu air jeruk dicampur dengan madu. Tambahkan air hangat sampai menjadi satu gelas, minum sedikit-sedikit. Efek ramuan tersebut adalah untuk membantu melonggarkan batuk (ekspektoransia) dan menghilangkan rasa gatal-gatal di kerongkongan.

Madu sebagai obat luka dan luka bakar.

Madu dapat dimanfaatkan untuk mengobati luka ringan, borok, luka bakar yang terbuka. Madu dioleskan di atas luka secara merata, lalu ditutup dengan kain kasa yang steril, kemudian dibalut dengan kain pembalut. Beberapa sifat madu adalah antibakteri dan higrokopis, yaitu menghisap air dari sekelilingnya. Karena menghisap air dari cairan luka, maka madu menjadi encer dan menyebabkan enzim glukosa-oksidase bekerja aktif dan menghasilkan asam glukonik dan hidrogen peroksida (H2O2). Hidrogen peroksida ini sangat labil dan terurai menjadi air (H2O) + O (oksigen nasendi) yang memunyai sifat antibakteri yang sangat ampuh, sehingga luka tidak akan terkena infeksi. Dalam waktu kurang lebih 5 hari, luka mulai mongering dan mulai tumbuh jaringan baru. Keuntungan dari pengobatan dengan madu ini ialah kain kasa tidak melengket pada kulit atau pada luka, sehingga mudah menggantinya.

Madu sebagai suplemen untuk penambah berat badan

Satu gelas susu dan satu atau dua sendok makan madu, susu – panas atau dingin sesuai selera – dicampur dengan madu, diminum sebelum tidur malam. Efek pengonsumsian susu dengan madu adalah agar tidur menjadi nyenyak, sehingga badan merasa segar waktu bangun pagi. Berat badan dapat meningkat dengan asumsi makanan sehari-hari sudah memenuhi syarat yang dianjurkan, yaitu "menu sehat dan seimbang." Insya Allah, berat badan akan bertambah sekitar setengah kilogram dalam sebulan. Selamat mencoba! (Joko/Tabloid Bekam) Sumber: Makanan – Dalam Perspektif Al-Quran dan Ilmu Gizi, Terbitan FKUI.‎ Description: Madu Sebagai Obat
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Madu Sebagai Obat
SelengkapnyaMadu Sebagai Obat

Khilafah Islamiyyah Versus The New World Order

Posted by Noer Rachman Hamidi on Sunday, June 15, 2014

Ahad, 16 Sya'ban 1435 H / 15 Juni 2014

Khilafah Islamiyyah Versus The New World Order
Ihsan Tandjung – Kamis, 22 Rajab 1435 H / 22 Mei 2014 07:35 WIB

Setiap muslim yang cukup rajin belajar agama, atau yang terlibat dengan pergerakan Islam, umumnya mengenal istilah Khilafah Islamiyyah. Khilafah Islamiyyah merupakan lembaga politik kenegaraan milik ummat Islam yang telah eksis belasan abad sejak Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم memimpinnya pertama kali berbasis di kota Madinah Al-Munawwarah hingga runtuhnyasecara resmi khilafah terakhir berupa Kesultanan Utsmani Turki yang bubar pada tahun 1924 atau 1342 hijriyyah.

Dewasa ini dunia Islam terpecah-belah menjadi aneka nation-states (negara berdasarkan kebangsaan) tidak seperti Khilafah Islamiyyah yang menyatukan kaum muslimin dari berbagai bangsa dan wilayah berdasarkan ikatan aqidah kalimat Tauhid لا اله الا الله dan sunnah Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم . Sebenarnya realitas ummat Islam selama belasan abad di bawah naungan Khilafah tidaklah sepenuhnya konstan dalam kebaikan. Ada gradasi yang -perlahan tapi pasti- memperlihatkan suatu dekadensi hingga senanglah kaum kuffar menyaksikan runtuhnya Khilafah dan tercerai-berainya kaum muslimin seperti dewasa ini. Hal ini telah diprediksikan oleh rasulullah صلى الله عليه و سلم lima belas abad yang lalu:

لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً

فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي

تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ

Dari Abu Umamah Al Bahili dari Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: "Sungguh ikatan Islam akan terurai simpul demi simpul. Setiap satu simpul terurai maka manusia akan bergantungan pada simpul berikutnya. Yang pertama kali terurai adalah simpul hukum dan yang paling akhir adalah simpul sholat."(AHMAD – 21139)

Penegakkan hukum Allah سبحانه و تعالى telah mengalami dekadensi dari masa ke masa. Pada babak paling awal penegakkan hukum berlangsung prima karena baik personpemimpin maupun konstitusi Daulah Islamiyyah langsung di tangani oleh Rasulullah Muhammad صلى الله عليه و سلم , teladan utama orang-orang beriman. Kemudian pada babak berikutnya ummat Islam menyaksikan penegakkan hukum yang masih tetap baik –walau tentunya tidak se-prima di masa Nabi صلى الله عليه و سلم – di bawah person pemimpin yang dijuluki al-Khulafa ar-Rasyidun dan konstitusi Khilafah Islamiyyah, terdiri dari para sahabat utama Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalibradhiyallahu 'anhum.

Lalu pada babak selanjutnya penegakkan hukum mulai mengalami masalah karena antara person pemimpin dan konstitusi Khilafah Islamiyyah tidak selalu sinkron.Person pemimpin terdiri dari para khalifah yang dijuluki Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم sebagai para Mulkan 'Aadhdhon (para penguasa yang menggigit). Namun konstitusi Khilafah Islamiyyah masih baik karena secara formal tetap berlandaskan Islam di mana berbagai urusan dirujuk kepada Allah (Al-Qur'an) dan RasulNya (As-Sunnah). Dalam sejarah dikenal sebagai era berbagai kerajaan Islam, terutama tiga di antaranya yang sangat menonjol yaitu Dinasti Bani Ummayyah, Dinasti Bani Abbasiyyah dan Kesultanan Turki Utsmani. Pada masa yang berlangsung hampir 13 abad itu person pemimpinnya bermasalah, namun konstitusi Khilafah Islamiyyah masih relatif cukup Islami.

Namun sesudah itu masuklah ummat Islam ke dalam babak yang paling kelam dalam sejarahnya di mana baik person pemimpin maupun konstitusi lembaga kenegaraansungguh bermasalah. Inilah era yang oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم disebut era kepemimpinan Mulkan Jabbriyyan (para penguasa yang memaksakan kehendak). Dan inilah era di mana dunia modern ini berada. Dunia Islam tercabik-cabik ke dalam berbagaination-states. Tidak ada satu wilayah tunggal ummat Islam yang memberlakukan hukum Allah سبحانه و تعالى . Tidak ada satu blok tunggal kekuatan ummat Islam yang memelihara izzul Islam wal muslimin (kemuliaan Islam dan kaum muslimin). Sedangkan kepemimpin dunia justeru berpindah gilirannya ke tangan kaum kuffar yakni the western civilization, dengan kekuatan kaum yahudi-nasrani sebagai komandannya. Oleh karenanya seringkali disebut juga sebagai the judeo-christian civilization.

Pada babak yang kelam ini dunia berjalan menuju kegelapan karena komandannya tidak memiliki cahaya penerang apapun untuk menunjuki jalan manusia ke arah tujuan semestinya. Malah para pemimpinnya justeru mengajak ummat manusia –termasuk ummat Islam- memasuki lubang biawak kebinasaan di dunia apalagi di akhirat. Persis sebagaimana diprediksikan oleh Rasulullah صلى الله عليه و سلم :

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

قَالَ لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ

شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ

حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ

لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ

الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

"Kamu akan mengikuti perilaku/tradisi/sistem hidup orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu ikut memasukinya." Para sahabat lantas bertanya, "Apakah yang anda maksud orang-orang Yahudi dan Nasrani, ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Siapa lagi (kalau bukan mereka)?" (HR Bukhary 3197)

Tetapi ada suatu pertanyaan mendasar yang perlu diajukan. Mengapa ummat Islam mengikutiperilaku/tradisi/sistem hidup kaum yahudi dan nasrani? Sesungguhnya dekadensi di bidang penegakkan hukum Allah سبحانه و تعالى bukanlah suatu fenomena yang berdiri sendiri. Ia tidak hanya berkenaan dengan hadir-tidaknya person pemimpin yang bermasalah serta berlaku tidaknya konstitusi Khilafah Islamiyyah di dalam tubuh kaum muslimin. Tetapi ia sangat dipengaruhi oleh kondisi kejiwaan dan mental kaum muslimin secara keseluruhannya yang telah dijangkiti suatu penyakit kronis yang telah disinyalir oleh Rasulullah صلى الله عليه و سلم . Penyakit itu bernama al-wahan. Artinya cinta dunia dan takut menghadapi kematian. Dan penyakit ini bukan hanya muncul di tengah kaum muslimin sesudah runtuhnya secara resmiKhilafah Islamiyyah pada tahun 1924. Tetapi bibit-bibit penyakit ini telah hadir sejak lama sebelum hal itu terjadi. Runtuhnya khilafah hanyalah merupakan faktor pemicu yang menyebabkan kian ganasnya virus penyakital-wahan berkembang di dalam tubuh kaum muslimin seperti yang dapat kita saksikan dewasa ini.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ

عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ

أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى

الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ

وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ

بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ

غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ

مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ

وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ

فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ

قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Bersabda Rasulullahصلى الله عليه و سلم"Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya." Maka seseorang bertanya: "Apakah karena sedikitnya jumlah kita?" "Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan." Seseorang bertanya: "Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?" Nabi صلى الله عليه و سلمbersabda: "Cinta dunia dan takut akan kematian." (HR Abu Dawud 3745)

Fihak kaum kuffar pada hakekatnya tidak akan pernah sanggup melakukan apapun terhadap 'izzul Islam wal muslimin (kemuliaan Islam dan kaum muslimin) andaikan ummat ini benar-benar beriman dan yakin akan janji Allah سبحانه و تعالى berupa ihdal-husnayain(meraih salah satu dari dua kebaikan) yakni'isy kariiman au mut syahiidan (hidup mulia di bawah naungan syariat Allah atau menggapai mati syahid).

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلا مَا كَتَبَ اللَّهُ

لَنَا هُوَ مَوْلانَا وَعَلَى اللَّهِ

فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

قُلْ هَلْ تَرَبَّصُونَ بِنَا

إِلا إِحْدَى الْحُسْنَيَيْنِ

Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal." Katakanlah: "tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali ihdal-husnayain (salah satu dari dua kebaikan)." (QS At-Taubah 51-52)

Dalam kitab tafsir Fathul Qadir dikatakan bahwa makna salah satu dari dua kebaikanialah:

إما النصرة أو الشهادة

"Atau kemenangan atau mati syahid".

Sepanjang sejarah Islam fihak musuh senantiasa berusaha menghilangkan gairah kaum muslimin untuk meraih salah satu dari dua kebaikan di atas. Mereka melakukan segala upaya untuk memadamkan semangat perjuangan kaum muslimin. Bayangkan, mereka sampai perlu melansir perang Salib selama dua abad (dua ratus tahun)! Namun ummat Islam semakin diperangi semakin menjadi-jadi semangat berperangnya (baca: hubbul-jihad wa asy-syahadah/ cinta jihad dan mati syahid). Kalimat legendaris yang diucapkan Panglima Khalid bin Walid ra ketika memimpin pasukan Islam yang jauh lebih sedikit jumlahnya daripada pasukan Romawi telah menginspirasi pasukan Islam sepanjang zaman:

جئت بأناس يحبون

الموت كما تحبون الحياة

"Aku datang dengan sejumlah manusia yang mencintai kematian melebihi kalian (hai kaum Romawi) dalam mencintai kehidupan…!"

Akhirnya kaum yahudi-nasrani merubah strategi mereka menghadapi kaum muslimin. Mulailah era al-ghazwu al-fikri (perang ideologis) diterapkan menghadapi kaum muslimin. Mulailah mereka meracuni hati dan fikiran kaum muslimin melalui harta, wanita dan perebutan tahta antara sesama muslimin. Mulailah politik belah bambu alias devide et empera diterapkan. Mulailah berbagai ideologi asing buatan kaum kuffar diperkenalkan dan dipromosikan oleh para orientalis yang belajar Islam untuk dijadikan pembungkus kebusukan berbagai ideologi menyesatkan tersebut. Mulailah mereka memperkenalkan makna-makna baru lagi sesat terhadap berbagai istilah Islam yang sudah lama disepakati pemahamannya oleh kaum muslimin sejak dahulu kala. Akhirnya tersebarlah di tengah ummat Islam makna-makna asing lagi menyesatkan terhadap kata-kata seperti al-jihad fi sabilillah, rahmatan lil 'aalamiin, dien, 'ibadah, rabb dan ilah.

Alhasil dekadensi di dalam tubuh ummat Islam tidak hanya terjadi pada bab penegakkan hukum semata. Tetapi dekadensi di berbagai bidang lainnya turut menyempurnakan keruntuhan 'izzul Islam wal muslimin (kemuliaan Islam dan kaum muslimin). Sehingga kaum kuffarpun akhirnya menikmati buah ketidak-loyalan kaum muslimin terhadap agama Allah سبحانه و تعالى dan sunnah Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم . Maka mulailah babak paling kelam dalam sejarah Islam berlangsung.

Di babak ini kaum yahudi dan kaum nasrani (yang telah ter-yahudi-kan) sangat ingin memastikan bahwa ummat manusia –apalagi ummat Islam- tidak pernah lagi boleh menengok ke belakang. Ummat Islam harus diharamkan berfikir menghidupkan kembali ide Khilafah Islamiyyah. Sebab ia telah menjadi sejarah dan harus tetap tersimpan dalam lembaran sejarah semata. Sementara itu kaum kuffar selanjutnya leluasa mempersiapkan dunia dengan sebuah grand-design yang sudah lama mereka rencanakan berupa ide pembentukan sebuah sistem global tunggal bernama Novus Ordo Seclorum alias the New World Order (tatanan dunia baru). Bahkan secara lebih spesifik namun tersamar kaum yahudi telah mencanangkan bahwa NOS sesungguhnya dibangun dalam rangka menyambut kehadiran sang pemimpin yang mereka nanti-nantikan sejak lama yaitu si mata tunggal alias Ad-Dajjal. Oleh karenanya kita temukan beberapa statement dari para pemimpin mereka seperti misalnya:

Henry Kissinger: "…apa yang dinamakan terorisme di Amerika, tapi sebenarnya adalah kebangkitan Islam radikal terhadap dunia secular, dan terhadap dunia yang demokratis, atas nama pendirian kembali semacamKekhalifahan."

Pada tanggal 5 Oktober 2005, Menteri Dalam Negeri Inggris, Charles Clarkemenyampaikan pidato tentang Perang Melawan Terorisme di The Heritage Foundation (sebuah pusat kajian neo konservatif di Washington DC ). Dimana dia menyatakan:

"Apa yang mendorong orang-orang itu adalah ide-ide. Dan berbeda dengan gerakan kebebasan di era pasca Perang Dunia II di banyak belahan dunia, ide-ide itu bukanlah untuk menggapai ide-ide politik seperti kemerdekaan nasional dari penjajahan, atau persamaan bagi semua penduduk tanpa membedakan suku dan keyakinan, atau kebebasan berekspresi tanpa tekanan totaliter. Ambisi-ambisi itu adalah, paling tidak secara prinsip, bisa dirundingkan dan dalam banyak hal telah dimusyawarahkan. Namun, tidak ada perundingan bagi pendirian kembaliKhilafah; tidak ada perundingan bagi penerapan Hukum Syariah; dan tidak ada perundingan tentang penindasan atas persamaan antara laki-laki dan perempuan; tidak ada perundingan untuk mengakhiri kebebasan berbicara. Nilai-nilai itu adalah sangat fundamental bagi peradaban kami dan tidak dimungkinkan adanya perundingan."

Dalam pidatonya di awal bulan November 2005 George Bush Jr menyatakan bahwa kaum militant sedang berusaha untuk mendirikan sebuah "kekaisaran Islam radikal":

"Ide membunuh dari kaum Islam radikal adalah tantangan yang besar di abad baru kita. Sama seperti ideology komunisme, musuh kita yang baru ini mengajarkan bahwa individu yang tidak berdosa bisa dikorbankan untuk bisa menjalankan visi politik. Kaum militan percaya bahwa mereka dapat menyatukan kaum muslimin dengan cara menguasai Negara, sehingga dengan cara itu mereka menumbangkan semua pemerintahan moderat di wilayah dan mendirikan sebuahkekaisaran Islam yang membentang dari Spanyol hingga Indonesia."

Sedangkan berkenaan dengan NOS, kita temukan suatu pernyataan dari Bush Seniordi tahun 1991 yang ternyata dibuktikan sebaliknya pada dekade berikutnya. Pernyataannya di antaranya sebagai berikut:

"Until now, the world we've known has been a world divided – a world of barbed wire and concrete block, conflict and cold war.

Now, we can see a new world coming into view. A world in which there is the very real prospect of a new world order. In the words of Winston Churchill, a "world order" in which "the principles of justice and fair play … protect the weak against the strong …" A world where the United Nations, freed from cold war stalemate, is poised to fulfil the historic vision of its founders. A world in which freedom and respect for human rights find a home among all nations.

The Gulf war put this new world to its first test, and, my fellow Americans, we passed that test."

Jelaslah bahwa para pendukung the New World Order memiliki agenda yang sangat berbeda –bertentangan lebih tepatnya- dengan kaum muslimin yang faham dan bangga akan sejarahnya. Tidak ada muslim-mukmin yang bisa melupakan masa lalunya. Sebab kendati Khilafah Islamiyyah sudah tiada, namun karena ia telah berlangsung belasan abad sulit untuk begitu saja dilupakan. Sedangkan hegemoni Novus Ordo Seclorum alias Sistem Dajjal belum ada seabad. Dan para pengusung sistem batil ini masih berjuang keras memastikan dan memuluskan eksistensinya. Mereka sangat khawatir jika sebelum pemimpin mereka datang, yakni Ad-Dajjal, ummat Islam keburu bangun kembali dari tidur mereka dan bergerak bangkit mewujudkan kembaliKhilafah Islamiyyah yang diyakini berlandaskan Kitabullah Al-Qur'anul Karim dan As-Sunnah An-Nabawiyyah.

Bagi muslim-mukmin yang sadar, maka urusan tegaknya kembali Khilafah Islamiyyah bukanlah sekedar mengenang kembali nostalgia masa lalu. Urusan ini berkaitan erat dengan iman dan keyakinan akan janji Allah سبحانه و تعالى yang tidak pernah berdusta serta prediksi Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم mengenai skenario Akhir Zaman yang tidak pernah meleset. Betapapun tampak digdayanya kekuatan kaum kuffar barat, kaum yahudi-nasrani serta para antek kaki-tangan mereka dari sebagian kaum musyrikin dan munafikin yang telah berhasil mereka rekrut dengan kebijakan stick and carrot.

Urusan siapa yang Allah سبحانه و تعالى izinkan memimpin dunia adalah urusan giliran. Ada kalanya Allah سبحانه و تعالى percayakan kepada kaum beriman dan ada kalanya dipercayakan kepada kaum kuffar. Dewasa ini giliran sedang Allah سبحانه و تعالى serahkan kepada kaum kuffar. Ummat Islam wajib bersabar dan melipat-gandakan kesabaran. Kesabaran untuk terus menyempurnakan persiapan diri, keluarga dan ummat di berbagai bidang, sejak dari bina al-iman wa at-tauhid hinggabina ad-da'wah wa al-jihad. Kesabaran untuk tidak mudah tergoda oleh rayuan pengusung NOS yang membujuk ummat Islam untuk memandang baik berkompromi dan kerja-sama dengan NOS guna memelihara nilai-nilai Sistem Dajjal. Kesabaran untuk tidak terjerembab ke dalam berbagai fitnah zaman yang telah meliputi segenap aspek kehidupan manusia. Fitnah yang telah meliputi aspek ideologi, politik, sosial, budaya, ekonomi, militer, pendidikan, hukum, kesehatan, informasi dan lain-lainnya.

Babak ini boleh jadi merupakan babak di mana ummat Islam sedang babak belur, tetapi ia bukan alasan untuk membiarkan diri mengembangkan defeated mentality (mental pecundang) sehingga kemenangan kaum kuffar sedemikian menyilaukan sehingga seorang muslim menggunakan kaedah if you can't beat them, then you join them (jika kamu tidak dapat mengalahkan mereka, maka bergabung sajalah dengan mereka). Sehingga kita mendengar mereka yang sedemikian rupa tersilaukan melihat kedigdayaan kaum kuffar tega secara terang-terangan mengungkapkan hilangnya kepercayaan diri terhadap perlunya institusi Khilafah Islamiyyah. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji"uun. Padahal Rasulullah صلى الله عليه و سلم dengan jelas menyatakan bahwa sesudah babak yang penuh fitnah ini, niscaya Allah سبحانه و تعالى akan izinkan tegaknya kembali Khilafah Islamiyyah berdasarkan manhaj Kenabian.

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ

مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ

ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا

ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ

النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ

أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا

إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا

ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا

فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ

أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا

إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا

ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً

فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ

أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا

إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا

ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ

النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

"Akan berlangsung nubuwwah (kenabian) di tengah-tengah kalian selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya (berakhir) bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya. Kemudian berlangsung khilafah menurut manhaj kenabian selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya Kemudian berlangsung para Mulkan 'Aadhdhon (para penguasa yang menggigit) selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya Kemudian berlangsung kepemimpinan Mulkan Jabbriyyan (para penguasa yang memaksakan kehendak) selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya Kemudian akan berelangsung kembali khilafah menurut manhaj kenabian. Kemudian beliau berhenti". (AHMAD – 17680)

Boleh jadi Allah سبحانه و تعالى tidak izinkan kita mengalami hidup di bawah naungan Khilafah Islamiyyah. Yang paling penting ialah memastikan diri dan keluarga kita menjadi bagian dari ummat islam yang dipercaya Allah سبحانه و تعالى untuk turut serta mempersiapkan dan memperjuangkannya di atas jalan yang lurus dan benar. Bukan malah menjadi bagian dari mereka yang justeru turut melestarikan dan memandang final The New World Order yang sejatinya merupakan Sistem Dajjal dalam rangka menyambut kedatangan si puncak fitnah, yakni Ad-Dajjal. Wa na'udzu billaahi min dzaalika…!‎ Description: Khilafah Islamiyyah Versus The New World Order
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Khilafah Islamiyyah Versus The New World Order
SelengkapnyaKhilafah Islamiyyah Versus The New World Order

Sebuah kisah dalam memilih Pemimpin

Posted by Noer Rachman Hamidi on Saturday, June 14, 2014

Pilpres sebentar lagi, itu artinya akan ada perhelatan akbar di negeri ini untuk menentukan siapa yang kelak menahkodai Indonesia, khususnya umat islam yang merupakan umat mayoritas di negeri ini. Tahun ini, hanya ada dua kandidat pasangan capres dan cawapres. Masing-masing dari pasangan tersebut memiliki basis massa yang berbeda-beda. Prabowo-Hatta dengan koalisi merah putihnya, didominasi oleh partai yang berlatar belakang "partai islam". Sedangkan Jokowi-JK, didukung oleh partai nasionalis berbasis sekuler, walaupun ada juga satu partai yang katanya berbasis islam yang memberikan dukungannya kepada pasangan Jokowi-JK.

Pada kedua pasangan capres dan cawapres tersebutlah, rakyat Indonesia menaruh harapan. Rakyat berharap, siapapun pemimpinnya, yang penting mampu memberikan rasa aman, kesejahteraan, serta keadilan kepada mereka.

Pertanyaannya, mungkinkah hal itu dapat terwujud ? Kita lihat saja nanti.

Ah, mungkin masih terasa dalam ingatan kita tentang satu nama seorang pemimpin umat, yang pada masa pemerintahannya tak ditemukan kemiskinan. Bahkan, penjara pun sepi dari para pelaku tindak kejahatan. Dialah Umar bin Abdul Aziz.

Seorang pemimpin dari kalangan Bani Umayyah. Beliau adalah pemimpin yang menebarkan keadilan, memberikan rasa aman, serta mampu mensejahterakan rakyat yang dipimpinnya.

***

Kala itu, ketika dirinya baru saja dilantik menjadi khalifah, datanglah sejumlah pengawal dengan membawakan kendaraan khusus untuk khalifah. Ketika kendaraan itu sudah tiba dihadapan, sang halifah justru berpaling darinya, dan lebih memilih untuk menaiki kendaraannya yang lama. Al Hakam bin Umar berkata " Saya menyaksikan orang-orang yang datang dengan kendaraan khusus kepada Umar bin Abdul Aziz saat dia diangkat menjadi khalifah. namun dia justru berkata "kirim kendaraan-kendaraan itu ke pasar, dan juallah, kemudian hasil dri penjualannya simpanlah di baitul mal. Aku, cukup naik kendaraanku ini saja".

Umar bin Abdul Aziz merupakan pemimpin yang takut kepada Tuhannya. Saking takutnya terhadap Sang Maha Khaliq, dia senantiasa menitikan air mata disepanjang harinya. Beliau mengkhawatirkan tentang kepemimpinannya. Beliau khawatir, jika ada sebagian dari rakyatnya yang merasakan ketidakadilan karena kepemimpinannya.

Fathimah, istri Umar bin Abdul Aziz pernah menemui suaminya dalam keadaan menangis, hingga airmatanya berlinang membasahi janggutnya. Umar bin Abdul Aziz berkata kepada istrinya, "Wahai Fathimah, sesungguhnya saya memikul beban umat Muhammad dari yang hitam sampai yang merah. Dan saya memikirkan persoalan orang-orang fakir dan kelaparan, orang yang sakit dan telantar, orang yang tidak punya pakaian dan orang yang tersisihkan, yang teraniaya dan yang terintimidasi, yang terasing dan yang ditawan, yang tua dan yang jompo, yang memiliki banyak kerabat, namun hartanya sedikit, dan orang-orang yang serupa dengan itu di seluruh pelosok negeri. Saya sadar dan tahu, bahwa Tuhanku akan menanyakan kelak di Hari kiamat. Saya khawatir, saat itu saya tidak memiliki alasan buat Tuhanku. Maka, menangislah saya"

Begitulah, ketika pemimpin suatu negeri mendahulukan rasa takut kepada Tuhannya, maka disaat yang bersamaan, dia pun akan selalu berusaha memenuhi amanahnya kepada rakyat yang dipimpinnya, terlebih lagi janji kepada Tuhannya.

Pada masa kepemimpinan beliau, rakyatnya tidak merasakan kelaparan, negerinya makmur, semua berkat ketaatan pemimpin, dan ketundukan rakyatnya terhadap aturan Allah swt.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…(Al A'raaf : 96)

Kita butuh pemimpin yang menirukan apa yang Umar bin Abdul Aziz lakukan. Benar-benar merakyat tanpa dibuat-buat, benar-benar dapat mensejahterakan tanpa pencitraan.

Umar bin Abdul Aziz sangat menyadari kedudukan beliau sebagai sorang pemimpin. Seperti yang pernah disampaikan oleh kakek buyutnya yang juga seorang pemimpin, Umar bin Khatab ra. bahwasannya beliau pernah berkata "pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi kaumnya". Itulah konsep seorang pemimpin dalam islam. pemimpin yang melayani, bukan pemimpin yang selalu minta untuk dimengerti oleh rakyatnya.

Kenaikan BBM, rakyat yang disuruh mengerti, aset negara dijual ke asing rakyat pun disuruh untuk mengerti. Hingga kemiskinan yang merajarela pun rakyat yang disuruh untuk mengerti dengan kondisi pemimpinnya saat ini. Ingat, Umar bin Abdul Aziz dapat membangun negerinya dengan penuh keadilan dan kemakmuran, hanya membutuhkan waktu kurang dari 3 tahun. Di Indonesia, 32 tahun kepemimpinan otoriter rezim Soeharto, dan 10 tahun kepemimpinan era demokrasi pasca reformasi yang dipegang oleh SBY, tetap tak dapat menjadikan negeri ini makmur, adil, sejahtera. Karena memang, para pemimpin yang pernah menahkodai negeri ini, mengesampingkan rasa takutnya kepada Allah swt. dan justru takut kepada penguasa asing pengusung kapitalisme.

Kekayaan alam negeri ini, bukan dikelola secara mandiri, agar hasilnya kelak dikembalikan kepada rakyat, tapi yang ada malah diberikan kepada pihak asing.

Riba dimana-mana seakan menjadi hal yang halal, padahal itu jelas diharamkan. Praktek prostitusi menjadi barang yang mudah untuk ditemukan di negeri ini, bahkan dipelihara sebagai aset penghasilan lewat pajak bangunan yang digunakan sebagai tempat mesum tersebut. Kepemimpinan ala demokrasi, pada akhirnya hanya akan menghasilkan pemimpin yang menjadi jongos para kapitalis.

Bangsa ini butuh seorang pemimpin seperti Umar bin Abdul Aziz, dengan sistem pemerintahan yang juga mendukung untuk menghasilkan pemimpin semacam beliau. Hanya dengan khilafah islam lah yang memungkinkan lahirnya sosok pemimpin seperti Umar bin Abdul Aziz. Bukan dari sistem demokrasi, yang memasung hak-hak Tuhan sebagai pengatur dan pencipta alam semesta beserta hukum-hukum yang terdapat didalamnya.

Berikut adalah khutbah yang disampaikan oleh Umar bin Abdul Aziz tatkala dirinya dibai'at sebagai khalifah :

"Wahai hadirin sekalian, sesungguhnya tidak ada satu kitab suci apapun setelah Al-Qur'an, dan tidak akan ada Nabi setelah Muhammad. Ketahuilah bahwa saya bukan pembuat undang-undang. Saya hanyalah orang yang melaksanakan dan bukan pula orang yang membuat ajaran-ajaran baru (bid'ah), saya hanyala sebagai pengikut.

Saya bukan sebagai orang yang terbaik diantara kalian, justru saya adalah orang yang memikul beban demikian berat. Sesungguhnya seorang yang melarikan diri dari pemimpin yang zhalim, dia bukanlah orang yang zhalim. Ketahuilah, bahwa tidak ada ketaatan kepada makhluk apabila dia berada dalam maksiat.

Semoga kita dapat mengerti, bahwa perkara kepemimpinan bukanlah perkara yang sepele. Ini adalah perkara yang kelak akan menentukan baik atau buruknya suatu bangsa.

Ingatlah, bahwa sumber kebaikan, hanya datang dari Allah swt, Tuhan semesta alam. Peraturan yang baik, adalah peraturan yang berjalan sesuai dengan aturan-Nya. Dan pemimpin yang baik, adalah pemimpin yang ingin menerapkan syariat-Nya.

Kita semua merindukan sosok seperti Umar bin Abdul Aziz, guna mengatur urusan umat ini menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Bukan pemimpin yang hadir lewat pencitraan, atau pemimpin yang hanya datang bila ada kepentingan.

Bijaklah dalam memilih pemimpin, pilihlah pemimpin yang mau menerapkan syariat islam secara kaffah. Bila tak ada pemimpin yang seperti itu, maka berdiam dari memilih pemimpin yang sama-sama tidak takut kepada Tuhannya, adalah lebih baik, sekalipun memilih pemimpin yang kecil mudharatnya. Ketahuilah, dalam demokrasi tak ada yang kecil mudharatnya, karena sesungguhnya, demokrasi itu sendiri merupakan kemudharatan yang besar.

Sumber cerita : Tarikh Khulafa – Imam As Suyuthi‎ Description: Sebuah kisah dalam memilih Pemimpin
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Sebuah kisah dalam memilih Pemimpin
SelengkapnyaSebuah kisah dalam memilih Pemimpin